Rabu, 14 Oktober 2015

Cerpenku

Sepeda Pemberian Nenek

Sejak kecil aku sudah tinggal bersama nenekku. Kedua orang tuaku bekerja di luar pulau sejak 10 tahun yang lalu. Mereka jarang mengunjungiku, mereka hanya mengunjungi pada waktu lebaran saja atau hari-hari biasa ketika mereka mendapat cuti. Tak heran jika aku menganggap nenek sudah seperti ibuku sendiri. Aku tinggal di sebuah rumah mewah hanya dengan nenek dan seorang pembantu rumah tangga. Setiap hari rumah terasa sepi tapi aku sudah terbiasa dengan kehidupan ini. Karena nenek yang selalu menemaniku bermain, nenek yang selalu memberiku kekuatan disaat aku menghadapi kesulitan.


Suatu hari, tak kusangka ibu dan ayah pulang ke rumah. Aku sangat gembira hingga aku memutuskan untuk membolos sekolah. Padahal hari itu ada ulangan harian. Aku sangat gembira dengan kedatangan mereka, meskipun mereka hanya dua hari di sini.
Dua hari penuh ku habiskan waktuku bersama ayah dan ibu. Kami pergi ke Dufan, Ancol, Ragunan. Saking gembiranya aku melupakan nenek. Ketika aku berangkat bersama ayah dan ibu, aku tidak bertemu sama nenek. Kata mbak Mina (pembantu) nenek pergi keluar dan nenek tidak bilang ke mana.
“Tapi kalian disuruh pergi dulu sama nenek. Kata nenek, nenek gak usah ditunggu,”Kata mbak Mina.

Aku sangat menikmati keseruanku bersama ayah dan ibu. Entah kenapa selama di perjalanan aku selalu teringat nenek dan selalu merasa bersalah karena meninggalkan nenek selama dua hari. Aku, ayah dan ibu menginap di hotel selama dua hari satu malam.

Tibalah hari yang membuatku sedih. Ayah dan ibu harus kembali bekerja dan meninggalkanku. Menunggu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa bersama dengan mereka kembali.
“Dah...Ani..Euummah..”Kata mama seraya mencium pipiku.
“Dah...Ani...hati-hati ya di rumah, papa akan pulang kok lebaran besok,”Kata papa sambil memelukku.
“Tapi bagaimana dengan ulang tahunku??Apa kalian akan pulang??”
Mereka semua terdiam.
“Ani..papa dan mama masih sibuk bekerja, nanti mereka kan bisa telefon kamu. Lagipula kita kan bisa merayakan ulang tahunmu bersama dengan teman-teman sekolahmu,”Ucap nenek merayuku.
“Tapi mereka selalu menanyakan di mana mama dan papa, bahkan ada yang bilang kalau mama dan papa itu sudah meninggal,”
“Sudahlah jangan dengarkan ucapan mereka. Mereka tidak tau yang sebenarnya jadi jangan dengarkan mereka,”Kata mbak Mina yang juga ikut merayuku.

“Sudah ya nak... nanti mama dan papa usahakan untuk datang ke sini,”Kata mama sambil membelai rambutku.
“Iya ma..”
“Ya udah, mama dan papa pergi dulu ya. Buk, Mina kami pergi dulu. Tolong jaga Ani ya,”
“Iya pak,”Ucap mbak Mina.

Kami saling melambaikan tangan. Aku tak rela melepas kepergian mama dan papa. Begitu tega bosnya mama dan papa, mereka sampai terpisah dengan anaknya. Rasanya aku ingin berontak dan memukul wajah bosnya mama dan papa itu. Apa dia tidak merasakan perihnya jika hidup tanpa kedua orang tua, serasa jadi anak yatim piatu.

Sudah satu bulan aku tidak bertemu dengan mama dan papa. Sebenarnya aku sudah biasa dengan kejadian ini dan biasanya rasa sakitku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa bulan kemudian. Lima hari lagi ulang tahunku, aku sudah menduga kalau mama dan papa tidak akan datang, aku sudah yakin itu karena hal ini sudah terulang berkali-kali.

Empat hari berlalu seperti biasa dan tak ada kesan apapun. Besok adalah ulang tahunku, aku tidak membuat acara apapun. Aku hanya berharap kalau besok mama dan papa akan benar-benar menepati janjinya. Semalaman aku tidak bisa tidur, rasanya aku tidak ingin tidur. Aku ingin berdiri di depan pagar rumah, menunggu kedatangan mama papa. Tapi tentu saja nenek melarangku.
Pukul 12 malam, aku masih belum tidur. Lampu-lampu di rumah sudah dimatikan kecuali ruang tengah, karena aku masih mau menonton televisi di sana. Aku masih memikirkan hal itu. Waktu terus berjalan dan aku masih belum beranjak ke kamar tidur, aku hanya duduk termenung di depan televisi sambil melihat televisi yang tentu saja sudah tutup atau sudah layar kosong berwarna biru.

Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring dari dapur.
Kllontaang...
Aku langsung berlari menuju dapur dan mencari sumber bunyi itu. Aku memikirkan hal-hal yang menakutkan, padahal aku takut dengan kegelapan. Aku hanya berpikir dan berdo'a kalau itu bukan nenek. Memang nenek hari-hari ini terlihat aneh dan selalu ingin bersamaku. Nenek juga sering tidur terlalu lama, aku takut jika nenek nanti akan meninggalkanku untuk selamanya.
Sesampainya di sana, ternyata dugaanku salah. Ternyata itu nenek yang sudah tergeletak. Matanya masih terbuka sedikit.
“Kemarilah Ani..”Kata nenek dengan suaranya yang lemah.
“Nenek...”
Aku berlari ke arah nenek dan memeluknya.
“Hidup nenek sebentar lagi akan habis, sekarang Ani sudah berumur 14 tahun kan? Nenek tak bisa memberikan apa-apa. Tapi nenek sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Ani, semoga Ani menyukainya ya,”
“Nenek itu bicara apa sih, nenek jangan bicara seperti itu,”Kataku sambil meneteskan air mata.
“Ashadualla ila ha ilallah, Wa ashaduanna Muhammadarrosulullah,”
Nenek langsung menutup matanya dan tergeletak di pangkuanku.
“Nenek...jangan tinggalkan aku,”

-oOo-
Hari yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untukku. Justru menjadi hari yang memilukan. Sebenarnya di sisi lain aku juga merasa senang karena mama dan papa akan tinggal di sini selamanya bersamaku. Pekerjaan mereka dipindahkan ke daerah dekat rumahku.
Aku tidak menyangka kalau nenek akan meninggalkanku, lalu sekarang ketika aku mengalami kesulitan siapa yang akan memberiku kekuatan. Siapa yang akan menemaniku. Aku sangat menyayangi nenek melebihi orang tuaku sendiri itu karena neneklah yang merawatku sejak aku masih kecil. Sedangkan orang tuaku hanya membiayai kebutuhanku semata tanpa melihat apa yang aku butuhkan sebenarnya.


Setelah acara pemakaman nenek, aku dan semua keluargaku pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, ada sebuah sepeda baru di depan rumahku dan ada sebuah surat di setirnya. Kubaca surat itu, akupun tau siapa yang membelikan sepeda ini dan untuk siapa sepeda ini. Ternyata itu dari nenek untukku. Aku tak menyangka ternyata inilah hadiah yang dimaksudkan oleh nenek. Terima kasih nenek...meskipun engkau telah tiada di dunia ini, aku akan selalu mengingatmu dan menyayangimu. Aku akan merawat dan menyayangi sepeda ini seperti aku menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar