Sepeda Pemberian Nenek
Sejak
kecil aku sudah tinggal bersama nenekku. Kedua orang tuaku bekerja di luar
pulau sejak 10 tahun yang lalu. Mereka jarang mengunjungiku, mereka hanya
mengunjungi pada waktu lebaran saja atau hari-hari biasa ketika mereka mendapat
cuti. Tak heran jika aku menganggap nenek sudah seperti ibuku sendiri. Aku
tinggal di sebuah rumah mewah hanya dengan nenek dan seorang pembantu rumah
tangga. Setiap hari rumah terasa sepi tapi aku sudah terbiasa dengan kehidupan
ini. Karena nenek yang selalu menemaniku bermain, nenek yang selalu memberiku
kekuatan disaat aku menghadapi kesulitan.
Suatu hari, tak kusangka ibu dan ayah pulang ke rumah. Aku sangat gembira hingga aku memutuskan untuk membolos sekolah. Padahal hari itu ada ulangan harian. Aku sangat gembira dengan kedatangan mereka, meskipun mereka hanya dua hari di sini.
Dua hari penuh ku habiskan
waktuku bersama ayah dan ibu. Kami pergi ke Dufan, Ancol, Ragunan. Saking
gembiranya aku melupakan nenek. Ketika aku berangkat bersama ayah dan ibu, aku
tidak bertemu sama nenek. Kata mbak Mina (pembantu) nenek pergi keluar dan
nenek tidak bilang ke mana.
“Tapi kalian disuruh pergi
dulu sama nenek. Kata nenek, nenek gak usah ditunggu,”Kata mbak Mina.
Aku sangat menikmati
keseruanku bersama ayah dan ibu. Entah kenapa selama di perjalanan aku selalu
teringat nenek dan selalu merasa bersalah karena meninggalkan nenek selama dua
hari. Aku, ayah dan ibu menginap di hotel selama dua hari satu malam.
Tibalah hari yang membuatku
sedih. Ayah dan ibu harus kembali bekerja dan meninggalkanku. Menunggu hingga
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa bersama dengan mereka kembali.
“Dah...Ani..Euummah..”Kata
mama seraya mencium pipiku.
“Dah...Ani...hati-hati ya di
rumah, papa akan pulang kok lebaran besok,”Kata papa sambil memelukku.
“Tapi bagaimana dengan ulang
tahunku??Apa kalian akan pulang??”
Mereka semua terdiam.
“Ani..papa dan mama masih
sibuk bekerja, nanti mereka kan bisa telefon kamu. Lagipula kita kan bisa
merayakan ulang tahunmu bersama dengan teman-teman sekolahmu,”Ucap nenek
merayuku.
“Tapi mereka selalu menanyakan
di mana mama dan papa, bahkan ada yang bilang kalau mama dan papa itu sudah
meninggal,”
“Sudahlah jangan dengarkan
ucapan mereka. Mereka tidak tau yang sebenarnya jadi jangan dengarkan
mereka,”Kata mbak Mina yang juga ikut merayuku.
“Sudah ya nak... nanti mama
dan papa usahakan untuk datang ke sini,”Kata mama sambil membelai rambutku.
“Iya ma..”
“Ya udah, mama dan papa pergi
dulu ya. Buk, Mina kami pergi dulu. Tolong jaga Ani ya,”
“Iya pak,”Ucap mbak Mina.
Kami saling melambaikan
tangan. Aku tak rela melepas kepergian mama dan papa. Begitu tega bosnya mama
dan papa, mereka sampai terpisah dengan anaknya. Rasanya aku ingin berontak dan
memukul wajah bosnya mama dan papa itu. Apa dia tidak merasakan perihnya jika
hidup tanpa kedua orang tua, serasa jadi anak yatim piatu.
Sudah satu bulan aku tidak
bertemu dengan mama dan papa. Sebenarnya aku sudah biasa dengan kejadian ini
dan biasanya rasa sakitku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah
beberapa bulan kemudian. Lima hari lagi ulang tahunku, aku sudah menduga kalau
mama dan papa tidak akan datang, aku sudah yakin itu karena hal ini sudah
terulang berkali-kali.
Empat hari berlalu seperti
biasa dan tak ada kesan apapun. Besok adalah ulang tahunku, aku tidak membuat
acara apapun. Aku hanya berharap kalau besok mama dan papa akan benar-benar
menepati janjinya. Semalaman aku tidak bisa tidur, rasanya aku tidak ingin
tidur. Aku ingin berdiri di depan pagar rumah, menunggu kedatangan mama papa.
Tapi tentu saja nenek melarangku.
Pukul 12 malam, aku masih
belum tidur. Lampu-lampu di rumah sudah dimatikan kecuali ruang tengah, karena
aku masih mau menonton televisi di sana. Aku masih memikirkan hal itu. Waktu
terus berjalan dan aku masih belum beranjak ke kamar tidur, aku hanya duduk
termenung di depan televisi sambil melihat televisi yang tentu saja sudah tutup
atau sudah layar kosong berwarna biru.
Tiba-tiba terdengar bunyi
nyaring dari dapur.
Kllontaang...
Aku langsung berlari menuju
dapur dan mencari sumber bunyi itu. Aku memikirkan hal-hal yang menakutkan,
padahal aku takut dengan kegelapan. Aku hanya berpikir dan berdo'a kalau itu
bukan nenek. Memang nenek hari-hari ini terlihat aneh dan selalu ingin
bersamaku. Nenek juga sering tidur terlalu lama, aku takut jika nenek nanti
akan meninggalkanku untuk selamanya.
Sesampainya di sana, ternyata
dugaanku salah. Ternyata itu nenek yang sudah tergeletak. Matanya masih terbuka
sedikit.
“Kemarilah Ani..”Kata nenek
dengan suaranya yang lemah.
“Nenek...”
Aku berlari ke arah nenek dan
memeluknya.
“Hidup nenek sebentar lagi
akan habis, sekarang Ani sudah berumur 14 tahun kan? Nenek tak bisa memberikan
apa-apa. Tapi nenek sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Ani, semoga Ani
menyukainya ya,”
“Nenek itu bicara apa sih,
nenek jangan bicara seperti itu,”Kataku sambil meneteskan air mata.
“Ashadualla ila ha ilallah, Wa
ashaduanna Muhammadarrosulullah,”
Nenek langsung menutup matanya
dan tergeletak di pangkuanku.
“Nenek...jangan tinggalkan
aku,”
-oOo-
Hari yang seharusnya menjadi
hari yang menyenangkan untukku. Justru menjadi hari yang memilukan. Sebenarnya
di sisi lain aku juga merasa senang karena mama dan papa akan tinggal di sini
selamanya bersamaku. Pekerjaan mereka dipindahkan ke daerah dekat rumahku.
Aku tidak menyangka kalau
nenek akan meninggalkanku, lalu sekarang ketika aku mengalami kesulitan siapa
yang akan memberiku kekuatan. Siapa yang akan menemaniku. Aku sangat menyayangi
nenek melebihi orang tuaku sendiri itu karena neneklah yang merawatku sejak aku
masih kecil. Sedangkan orang tuaku hanya membiayai kebutuhanku semata tanpa
melihat apa yang aku butuhkan sebenarnya.
Setelah acara pemakaman nenek,
aku dan semua keluargaku pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, ada sebuah
sepeda baru di depan rumahku dan ada sebuah surat di setirnya. Kubaca surat
itu, akupun tau siapa yang membelikan sepeda ini dan untuk siapa sepeda ini.
Ternyata itu dari nenek untukku. Aku tak menyangka ternyata inilah hadiah yang
dimaksudkan oleh nenek. Terima kasih nenek...meskipun engkau telah tiada di
dunia ini, aku akan selalu mengingatmu dan menyayangimu. Aku akan merawat dan
menyayangi sepeda ini seperti aku menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar