Rabu, 14 Oktober 2015

Cerpenku2

Sebuah Kata yang Berharga

“Cika...ayo bangun, jangan tidur terus. Meskipun ini hari Minggu, kamu harus tetap beres-beres rumah. Ayo bangun nak,” Ucap ibu seraya menarik selimutku.
Aku mengerang seperti orang kesurupan dan membentak ibu.
“Ibu!!! Jangan ganggu aku,”
Kutarik kembali selimutku dan membalikkan tubuhku menghadap tembok.
“Ayo nak...bangun, jangan beginilah...”
Aku hanya diam. Kemudian ibu meninggalkanku.

“Ibu mau pergi ke rumah Tante Edo, kalau mau makan makanannya ada di dalam lemari, ibu pergi dulu,” Kata ibu sambil menutup pintuku.

Setelah ibuku pergi beberapa menit kemudian, perutku terasa lapar. Aku menuju ke dapur dan membuka lemari makanan.
“Haah!!! cuma tempe!!!Huh!!”
Aku membanting pintu lemari makanan hingga kacanya retak sedikit. Aku tidak merasa bersalah dan langsung menuju kamarku.
Ketika ibu pulang...
'do u really wanna love somebody'
'are u ready for someone like me' (AgnesMo-Bad Girl)
Kusetel musik di kamarku dengan volume yang sangat keras. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan tetangga. Aku melakukan ini semata-mata karena ibu hanya memasak tempe.

“Ya ampun Cika...kamu kecilkan musik kamu itu. Semua tetangga pada ngamuk karena kelakuanmu itu. Ayo Cika kecilkan volumenya,”Kata ibu sambil mengetuk pintuku.
Akhirnya aku mematikan musikku karena aku tidak tahan dengan omongan orang tua itu. Kemudian aku langsung membuka pintu dan membantingnya di depan ibu.
“Bu!!!ibu itu tau gak sih kalau aku itu gak suka sama tempe!!!”Kubentak ibu sambil melotot padanya.

“Astagfirullah...Cika!!!kamu itu kok durhaka sama orang tua!!!”Salah satu tetanggaku masuk ke dalam rumah.
“Ehh buk, ibuk kok masuk rumah orang sembarangan sih. Dasar lancang!!!”

Plakk...
Tiba-tiba mulutku ditampar oleh tetanggaku.
“Rasain kamu!!!mentang-mentang ayahmu masih ke luar negeri. Terus kamu memperlakukan ibumu semena-mena. Kamu itu sudah dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan sekarang ini balasanmu. Kamu tau dari kamu masih di dalam kandungan ibumu hingga sebesar ini, ayah kamu itu sering keluar negeri karena ada urusan kerja dan hanya ibumu yang menjagamu, kakek nenekmu sudah meninggal. Saya tau semuanya, karena saya yang selalu menemani ibumu. Kamu tidak akan pernah tau betapa sengsaranya orang mengandung dan membesarkan anak sendirian. Dasar kamu anak durhaka!!!”

Plak...Plak...
Pukulan bertubi-tubi diberikan kepadaku. Tapi ibu menahannya.
“Sudah buk, dia sudah kesakitan. Sudah buk,”
Suara lembut ibu memberiku makna bahwa ibu pasrah. Pada saat itu, aku mulai sadar bahwa aku sudah sering menyakiti perasaan ibu.
Aku langsung memeluk ibu, kemudian aku berlutut dan mencium kaki ibu. Tak kusangka aku telah menyakitinya selama ini. Aku sangat menyesal.
“Terima kasih buk, sudah menyadarkan saya,”
Aku memeluk ibu dengan penuh tangisan. Mendengar kata-kata tadi, rasanya hatiku tertusuk.
“Aku bersalah bu....maafkan aku...Hu..hu..hu,”

Tetanggaku ikut menangis. Suasana hari itu sungguh mengharukan. Terima kasih ya Allah...Engkau telah membukakan hatiku. Selamanya aku akan menyayangi ibu dan akan menjaganya seumur hidupku hingga akhir hayatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar