Sebuah Kata yang Berharga
“Cika...ayo bangun, jangan
tidur terus. Meskipun ini hari Minggu, kamu harus tetap beres-beres rumah. Ayo
bangun nak,” Ucap ibu seraya menarik selimutku.
Aku mengerang seperti orang
kesurupan dan membentak ibu.
“Ibu!!! Jangan ganggu aku,”
Kutarik kembali selimutku dan
membalikkan tubuhku menghadap tembok.
“Ayo nak...bangun, jangan
beginilah...”
Aku hanya diam. Kemudian ibu
meninggalkanku.
“Ibu mau pergi ke rumah Tante
Edo, kalau mau makan makanannya ada di dalam lemari, ibu pergi dulu,” Kata ibu
sambil menutup pintuku.
Setelah ibuku pergi beberapa
menit kemudian, perutku terasa lapar. Aku menuju ke dapur dan membuka lemari
makanan.
“Haah!!! cuma tempe!!!Huh!!”
Aku membanting pintu lemari
makanan hingga kacanya retak sedikit. Aku tidak merasa bersalah dan langsung
menuju kamarku.
Ketika ibu pulang...
'do u really wanna love
somebody'
'are u ready for someone
like me' (AgnesMo-Bad Girl)
Kusetel musik di kamarku
dengan volume yang sangat keras. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan
tetangga. Aku melakukan ini semata-mata karena ibu hanya memasak tempe.
“Ya ampun Cika...kamu kecilkan
musik kamu itu. Semua tetangga pada ngamuk karena kelakuanmu itu. Ayo Cika
kecilkan volumenya,”Kata ibu sambil mengetuk pintuku.
Akhirnya aku mematikan musikku
karena aku tidak tahan dengan omongan orang tua itu. Kemudian aku langsung
membuka pintu dan membantingnya di depan ibu.
“Bu!!!ibu itu tau gak sih
kalau aku itu gak suka sama tempe!!!”Kubentak ibu sambil melotot padanya.
“Astagfirullah...Cika!!!kamu
itu kok durhaka sama orang tua!!!”Salah satu tetanggaku masuk ke dalam rumah.
“Ehh buk, ibuk kok masuk rumah
orang sembarangan sih. Dasar lancang!!!”
Plakk...
Tiba-tiba mulutku ditampar
oleh tetanggaku.
“Rasain kamu!!!mentang-mentang
ayahmu masih ke luar negeri. Terus kamu memperlakukan ibumu semena-mena. Kamu
itu sudah dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan sekarang ini balasanmu. Kamu
tau dari kamu masih di dalam kandungan ibumu hingga sebesar ini, ayah kamu itu
sering keluar negeri karena ada urusan kerja dan hanya ibumu yang menjagamu,
kakek nenekmu sudah meninggal. Saya tau semuanya, karena saya yang selalu
menemani ibumu. Kamu tidak akan pernah tau betapa sengsaranya orang mengandung
dan membesarkan anak sendirian. Dasar kamu anak durhaka!!!”
Plak...Plak...
Pukulan bertubi-tubi diberikan
kepadaku. Tapi ibu menahannya.
“Sudah buk, dia sudah
kesakitan. Sudah buk,”
Suara lembut ibu memberiku
makna bahwa ibu pasrah. Pada saat itu, aku mulai sadar bahwa aku sudah sering
menyakiti perasaan ibu.
Aku langsung memeluk ibu,
kemudian aku berlutut dan mencium kaki ibu. Tak kusangka aku telah menyakitinya
selama ini. Aku sangat menyesal.
“Terima kasih buk, sudah
menyadarkan saya,”
Aku memeluk ibu dengan penuh
tangisan. Mendengar kata-kata tadi, rasanya hatiku tertusuk.
“Aku bersalah bu....maafkan
aku...Hu..hu..hu,”
Tetanggaku ikut menangis.
Suasana hari itu sungguh mengharukan. Terima kasih ya Allah...Engkau telah
membukakan hatiku. Selamanya aku akan menyayangi ibu dan akan menjaganya seumur
hidupku hingga akhir hayatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar